Opini, ReportaseTimes – Ada yang salah dengan tatanan alam di Magetan. Secara logika dan kalender musim, akhir Maret hingga awal April seharusnya menjadi awal transisi menuju musim kemarau. Matahari seharusnya mulai bersinar terik, dan tanah mulai mengering.
Tapi apa yang terjadi? Justru langit menumpahkan air dengan volume yang di luar nalar manusia. Hujan deras tak henti, membuat air meluap ke mana-mana. Ini bukan sekadar cuaca yang berubah-ubah. Ini adalah peringatan keras. Ini adalah teguran alam. Atau jangan-jangan, ini benar-benar ujian Tuhan atas dosa dan kelalaian kita selama ini yang telah merusak ciptaan-Nya?
Pernyataan pedas dari penggiat lingkungan, Gimbal, kini terbukti menjadi fakta pahit. Ia pernah berkata: “Jika kita tidak peduli lingkungan, bencana akan datang dan merugikan kita sendiri.”
Lihatlah sekeliling! Hutan-hutan lindung yang seharusnya menjadi spons raksasa penahan air, kini disulap menjadi tempat wisata dan lahan pertanian intensif demi keuntungan sesaat. Sampah plastik menumpuk di sungai dan selokan, tidak dikelola, tidak diangkut, hanya dibiarkan membusuk dan menyumbat aliran. Kita serakah, kita egois, kita mengambil keuntungan tanpa memikirkan masa depan. Dan sekarang, alam membalas dengan cara yang tak bisa kita lawan.
Bencana ini kini menjadi obrolan wajib di setiap warung kopi. Tapi sayang, respons masyarakat terbelah. Ada yang bersikap masa bodoh dengan alasan: “Ah, biar teknisi dan ahli yang mikir, kita ngapain repot?”
Sikap apatis ini adalah musuh terbesar kita! Selama kalian berpikir seperti itu, selama kalian merasa ini bukan urusan kalian, maka Magetan tidak akan pernah selesai masalahnya!
Lalu ada sindiran pedas yang menyayat hati mengenai semboyan kita: “Magetan Kumandang Yen Kabeh Tumandang” (Magetan akan gemilang jika semua bekerja).
Faktanya? Masyarakat sudah bekerja keras! Sudah tumandang habis-habisan! Tapi kenapa hasilnya nihil? Kenapa bencana tetap datang?
Maka munculah kritik tajam yang harus kita renungkan: Semboyan itu sudah tidak relevan! Harusnya diganti jadi “Magetan Kumandang Yen Kabeh Madiang” (Magetan gemilang jika semua ikut menikmati hasilnya).
Kenapa? Karena realitanya pahit: Masyarakat yang bekerja banyak, tapi yang menikmati hasil dan kemudahan hanya segelintir orang elit saja!
Lihat saja tingkah para pejabat kita. Ada Kepala Dinas yang rajin update kebijakan di medsos, ada Anggota Dewan yang pamer aksi turun ke gorong-gorong. Tapi tanyakanlah, solusinya di mana? Anggarannya jelas tidak? Atau itu semua hanya sekadar pencitraan, gaya-gayaan, hanya memerintah tanpa arah? Sampai-sampai ada yang dijuluki “Sambong-nya Magetan” karena kerjanya cuma numpang tenar tapi tidak ada solusi nyata!
Warga Magetan, bangunlah! Jangan mau jadi penonton di negeri sendiri!
Saya melihat ironi yang menyedihkan. Saat ASN melakukan kerja bakti bersih-bersih di sekitar Pasar Baru, warga sekitar hanya bisa melongo dari pinggir jalan. Kenapa? Karena tidak ada ajakan, tidak ada surat edaran, tidak ada upaya untuk mengajak warga turun tangan. Pemerintah seolah ingin terlihat bekerja sendiri, padahal mereka lupa bahwa wargalah yang paling paham seluk-beluk masalah di lingkungannya sendiri!
Kalau kalian mengundang mereka, percayalah, mereka pasti datang! Mereka mau bahu-membahu! Mereka punya data, mereka punya keluhan, mereka punya solusi lokal yang jauh lebih jitu daripada teori di meja rapat. Tapi sayang, pintu dialog sering ditutup rapat.
Ingatlah, masyarakat Magetan itu sebenarnya manut dan patuh. Mereka mau melakukan apa saja asalkan demi kebaikan bersama, asalkan pemerintah bersikap jujur, transparan, dan tidak main mata. Warga tidak menolak pembangunan, mereka hanya ingin tahu: proyek apa yang dibangun? Apakah merusak lingkungan? Atau justru menyelamatkan?
Sayangnya sekarang ini, kebijakan terkesan jalan sendiri-sendiri, sesuai kehendak pribadi, mading-masing, tidak ada koordinasi yang solid.
Masyarakat, saatnya kalian sadar! Bencana ini tidak akan selesai hanya andalkan satu OPD atau satu orang pejabat!
Pemimpin Nomor Satu harus segera bertindak tegas! Kumpulkan semua OPD, pakar lingkungan, dan libatkan TNI serta Polri. Satukan kekuatan! Hanya dengan gotong royong total, didukung anggaran yang jelas dan cukup, masalah ini bisa tuntas cepat.
Dan untuk kalian warga Magetan yang selama ini diam: Jangan lagi hanya jadi penonton!
Ini tanah kelahiran kalian, ini rumah kalian. Jika air naik, kalian yang kebanjiran. Jika lingkungan rusak, kalian yang menderita. Mulailah peduli, mulailah kritis, dan siaplah turun tangan jika diajak untuk kebaikan. Jangan biarkan Magetan hancur karena sikap masa bodoh kita sendiri.
Magetan harus bangkit! Bukan hanya “Tumandang”, tapi juga harus sejahtera bersama, bukan hanya segelintir yang “Madiang” !!
oleh : Lilik Abdi Kusuma



