Kandang Ayam Raksasa Berdiri Tanpa Izin

Berita, Magetan7040 Dilihat

Ilustrasi peternak kecil musyawarah tentanh kandang Raksasa

Magetan, ReportaseTimes – Kabar yang kini mengguncang seluruh kalangan peternak di Kabupaten Magetan bukan sekadar soal bangunan kandang ayam yang menjulang megah. Lebih dari itu, ini adalah kisah pahit tentang kekuatan modal besar yang menindas rakyat kecil, melanggar aturan dengan congkaknya, dan bersiap mematikan mata pencaharian ratusan keluarga sekaligus! Inilah suara hati para peternak gurem yang kini hanya bisa bergumam getir, menatap takdir yang seakan dipaksakan kepada mereka.

Bayangkanlah dengan jujur dan jernih: di tengah tanah Magetan, sedang berdiri bangunan kandang ayam raksasa milik pihak yang dikenal dengan inisial “SK”. Rencananya akan dibangun tiga unit kandang bertingkat lengkap dengan peralatan canggih impor langsung dari Jerman sistem tertutup otomatis yang tak perlu banyak tenaga manusia. Setiap kandang dirancang untuk menampung 30.000 ekor ayam. Artinya, hanya pada tahap pertama saja, kapasitasnya mencapai 90.000 ekor ayam! Dan kabarnya, kesepakatan dengan pemasok mesin sudah disiapkan untuk kapasitas 200.000 ekor ayam! Angka yang begitu dahsyat, tak sebanding dengan puluhan atau belasan ekor yang dipelihara peternak rakyat dengan peluh sendiri.

Lantas muncul pertanyaan yang membuat dada sesak: BAGaimana mungkin bangunan sebesar itu, dengan teknologi secanggih itu, BELUM MEMILIKI IZIN RESMI, namun sudah berdiri tegak seakan-akan menjadi miliknya seumur hidup? Di mana mata pengawas? Di mana tegaknya peraturan? Mengapa bangunan yang melanggar tata ruang, yang berdiri di atas lahan yang bukan peruntukannya, justru dibiarkan tumbuh menjadi raksasa tanpa ada yang berani menyentuhnya? Padahal surat peringatan dari Dinas PUPR sudah terbit! Mengapa dibiarkan terus berjalan? Apakah karena pemiliknya orang berkuasa, kaya raya, sehingga aturan negara pun tak lagi berlaku baginya?

Para peternak kecil hanya bisa menatap sambil menahan getir. “Rumah saya sendiri yang saya tempati seumur hidup, kalah megah dan kalah mewah dibanding kandang ayam itu! Sungguh ironi yang menyakitkan hati,” demikian ungkap seorang peternak dengan suara bergetar, disambut tangis getir rekannya yang lain. Namun bukan soal kemewahan kandang yang paling menyayat hati. Yang paling mematikan adalah NIAT DI BALIK SEMUA ITU.

Terungkap kabar yang membuat bulu kuduk merinding dan darah mendidih: pemilik kandang raksasa ini ternyata adalah penguasa pasokan pakan ternak di seantero Kabupaten Magetan. Dialah yang selama ini memasok pakan kepada para peternak kecil. Dan pernah terdengar ucapan yang menusuk hati bagai belati: “Daripada pakan saya beri tempo atau piutangkan kepada peternak kecil yang susah membayar, lebih baik saya pakai sendiri saja!”

TERNYATA INILAH JAWABANNYA! Kandang raksasa ini dibangun BUKAN semata-mata untuk berbisnis telur. Melainkan sebagai senjata mematikan yang dirancang khusus untuk MEMATIKAN peternak rakyat sekaligus! Dua ujung mata pedang yang tajam telah dihunuskan: Pertama, keran pakan akan ditutup atau dijual dengan harga semena-mena sehingga peternak kecil tak mampu membeli. Kedua, telur produksi massal dari kandang raksasa itu akan dibanjiri ke pasar dengan harga ditekan serendah-rendahnya, sehingga peternak rakyat tak mungkin bersaing dan terpaksa menanggung kerugian terus-menerus hingga bangkrut!

Coba kita hitung dengan akal sehat: peternak kecil sudah kalah sejak di garis awal. Harga pokok produksi mereka jauh lebih tinggi. Pakan mahal, tenaga terbatas, modal tipis. Sementara kandang raksasa itu memakai mesin otomatis buatan Jerman hampir tak butuh karyawan, tak lelah, efisien luar biasa, produksi melimpah ruah. Bila telur-telur dari kandang itu tumpah ruah ke pasar dengan harga murah sesuka hati, siapa yang sanggup bersaing? Peternak kecil pasti luluh lantak! Ratusan keluarga akan kehilangan mata pencaharian! Anak-anak mereka tak lagi bisa sekolah! Dapur mereka perlahan tak lagi mengepul! Itulah akibat yang sedang direncanakan dengan sengaja!

“Peternak gurem bakal mati pelan-pelan. Kita sudah kalah harga dasar sejak awal,” keluh seorang peternak getir. “Kalau kandang itu beroperasi penuh, habislah kita semua. Tak ada jalan lain selain gulung tikar.” Dan yang lebih menyakitkan hati: kandang itu belum berijin! Belum selembar pun izin keluar! Namun sudah dibangun sepenuh hati! Artinya, mereka sengaja melanggar aturan, sengaja menabrak peraturan negara, karena merasa berkuasa dan merasa tak tersentuh!

Para peternak kecil kini menadahkan tangan hanya kepada satu pihak: PEMERINTAH KABUPATEN MAGETAN. Hanyalah pemerintah yang memegang kekuasaan untuk menegakkan aturan, melindungi yang lemah dari yang kuat, menjaga agar rakyat kecil tidak ditindas oleh kekuatan uang. Jangan sampai izin itu keluar! Jangan sampai pelanggaran dihargai dengan kemenangan! Jangan biarkan mereka melenggang pergi begitu saja setelah melanggar semua aturan! Tegakkan peringatan yang sudah dikirimkan! Hentikan pembangunan itu sekarang juga sebelum terlambat!

Karena jika izin itu kelak dikeluarkan, maka itu tandanya: di Magetan, uang lebih kuat daripada undang-undang. Yang kaya boleh melanggar, yang miskin harus diam menerima nasib ditindas. Jangan biarkan itu terjadi! Jangan biarkan ratusan peternak kecil lenyap hanya karena satu orang merasa berkuasa! Tegakkan keadilan sekarang, sebelum nyawa mata pencaharian rakyat kecil benar-benar diputus paksa!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *