Blitar, ReportaseTimes – Tahun 2024 menjadi tonggak penting bagi RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak melalui inovasi SILAKSMI (Sistem Pelayanan Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas).
Inovasi yang mulai diterapkan sejak Januari 2023 ini terus dikembangkan untuk menjawab tantangan tingginya angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Blitar serta untuk mempercepat proses pelayanan maternal yang sebelumnya memerlukan waktu lama dan sering dikeluhkan masyarakat.
Sebagai informasi, pada tahun-tahun sebelum inovasi ini berjalan, Kabupaten Blitar mencatat angka kematian ibu yang cukup mengkhawatirkan, diantaranya 18 kasus pada tahun 2019, 23 kasus pada tahun 2020, dan 69 kasus pada tahun 2021, tahun-tahun itu tentu mengalami kenaikan yang drastis. Sedangkan tahun 2022 mengalami penurunan dengan angka 17 kasus, dan 2023 menurun hanya 6 kasus. Kematian bayi kurang dari satu bulan juga berkisar pada angka 106 hingga 120 kasus per tahun.
Selain permasalahan klinis, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar juga menghadapi masalah lamanya waktu pendaftaran pasien yang bisa memakan lebih dari 30 menit, waktu tunggu rawat jalan yang mencapai lebih dari dua jam, serta pengambilan obat yang memerlukan lebih dari 30 menit.
Situasi ini tentunya berdampak pada menurunnya kepuasan pasien serta tingginya risiko keterlambatan penanganan kasus maternal.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dr. Endah Woto Utami, MMRS, menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2024, SILAKSMI menjadi program prioritas rumah sakit dalam memperkuat layanan maternal dan neonatal.
“SILAKSMI terbukti memberikan perubahan yang signifikan. Tahun 2024 kami fokus memperkuat jaringan pelayanan hingga ke desa-desa terpencil agar tidak ada lagi ibu hamil yang terlambat mendapatkan pertolongan,” ujarnya. Selasa (12/5/2026).
Perlu diketahui bahwa keunggulan SILAKSMI semakin menonjol di tahun 2024. Pasien kini dapat melakukan pendaftaran dari rumah tanpa perlu mengantre di rumah sakit. Selain itu, Notifikasi jadwal kontrol juga dikirimkan secara otomatis untuk memastikan pemantauan yang lebih terstruktur.
Lebih lanjut, layanan ambulans gratis 24 jam mampu menjangkau seluruh wilayah Blitar Raya, termasuk desa-desa pegunungan yang sulit dijangkau kendaraan medis biasa. Untuk menjawab tantangan geografis tersebut, rumah sakit mengoperasikan ambulans sepeda trail yang berfungsi sebagai kendaraan penanganan pertama ketika terjadi kedaruratan di wilayah terpencil.
“Selain memperluas jangkauan layanan, SILAKSMI juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari jejaring bidan se-Kabupaten Blitar, PSC 119, TAGANA, organisasi kemasyarakatan seperti Fatayat NU dan relawan kesehatan, hingga BPJS, Dinas Kesehatan, Dispendukcapil, dan Ikatan Bidan Indonesia,” imbuhnya.
dr. Endah Woto Utami menyebut, Program ini juga terintegrasi dengan layanan administrasi kependudukan melalui paket PAKIS, yang memudahkan ibu untuk memperoleh akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan KIA langsung setelah persalinan. Para ibu nifas juga dapat bergabung dalam komunitas KINASIH, yang membantu pemantauan kesehatan ibu setelah melahirkan melalui jejaring bidan desa.
“Dampak SILAKSMI pada tahun 2024 semakin terlihat jelas. Waktu pendaftaran kini dapat diselesaikan kurang dari 10 menit, jauh lebih cepat dibanding sebelum inovasi yang memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Waktu tunggu rawat jalan yang tadinya mencapai lebih dari 120 menit kini rata-rata hanya 30 menit,” bebernya.
Selain waktu antrean yang berkurang, pengambilan obat pun menjadi jauh lebih efisien dan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 8 menit.
“Yang paling menggembirakan, angka kematian ibu turun drastis dari 490,58 per 100.000 kelahiran hidup menjadi 130,48 per 100.000 kelahiran hidup. Tingkat kunjungan ibu hamil dan pasien maternal meningkat dari 41,28 persen menjadi 58,7 persen, dan tingkat kepuasan pasien juga menunjukkan peningkatan pada tahun 2024,” katanya.
Di tahun ini, SILAKSMI juga dikembangkan lebih jauh melalui integrasi dengan inovasi Si Bima Sakti, yang berfokus pada pemantauan bayi baru lahir dengan berat badan rendah atau prematur. Kolaborasi ini memperkuat sistem rujukan dan pemantauan bagi bayi berisiko tinggi agar mendapatkan perawatan optimal sejak dini.
Dengan perkembangan ini tentunya SILAKSMI kembali membuktikan diri sebagai salah satu pelayanan publik berbasis maternal terbaik di Kabupaten Blitar.
“Untuk itu, RSUD Ngudi Waluyi Wlingi berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan, meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, serta memastikan setiap warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan manusiawi sepanjang tahun 2024 dan seterusnya,” tegasnya.













